Original Story by Maria Putri
Ketika Matahari Menjadi Awan Kelabu © Maria Putri
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
Ketika Matahari Menjadi Awan Kelabu © Maria Putri
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
Semua orang pasti tahu, matahari itu bulat. Semua juga tahu kalau matahari itu selalu memancarkan sinarnya dengan terang saat pagi menjelang hingga malam tiba.
Begitu pula yang kuketahui tentang matahari saat pertama kali aku melihat dan mengetahuinya di kala aku kecil. Bulat dan bersinar.
Aku tidak pernah berpikir tentang hal lain yang menyangkut pada benda bulat yang bertempat di langit sana. Kinerja otakku masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan orang-orang dewasa yang sedang duduk di balik kaca ini.
Aku yang saat itu masih berusia lima tahun, tentu tidak pernah memusingkan hal yang seharusnya dipusingkan oleh orang-orang dewasa pada umumnya.
Termasuk dengan orang yang disukai.
Ketidaktahuanku tentang matahari, sama dengan ketidaktahuanku dengan sebuah kata “suka”.
Anggapanku tentang saat pertama kali melihat dan mengetahui matahari, sama dengan anggapanku saat pertama kali melihat dan mengetahui dirinya.
Dia ... manusia dan ber-gender laki-laki.
Hanya itu yang kutahu. Tidak lebih dari itu.
Aku selalu melihatnya sama seperti manusia lainnya. Tak ada yang berbeda dan tak ada hal lain yang harus kupikirkan tentang dirinya.
Sampai suatu ketika saat temanku bertanya kepadaku, “Mei-chan, siapa orang yang kamu suka?” tanyanya polos.
Aku hanya memandangnya tak mengerti一terlalu sibuk dengan kue donat yang ada di dalam mulutku.
“Ikki saja, ya? Biar sama kayak aku ...!”
Aku tak sadar dengan kata-kata yang dilontarkannya saat itu. Kata-kata yang sekarang ini mungkin banyak yang mengartikannya sebagai rival dalam mendapatkan orang yang disukai.
Namun, apa yang kutahu? Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataannya一masih terlalu sibuk dengan kue donat yang hendak kulahap.
Setelahnya aku melihatnya tersenyum dan ia pun melangkah pergi ke arah luar kelas.
Dan dari kejadian itulah, perasaan yang dahulu belum kuketahui namanya ini dimulai.
.
.
.
Aku kini menjadi sering memerhatikannya. Entah itu sengaja atau tidak. Tapi hanya sebatas melihatnya.
Memangnya apa yang kutahu soal perasaan di kala itu?
Aku yang pada saat itu bukanlah seperti anak kecil zaman sekarang yang sudah terinfeksi virus bernama cinta akibat menjadi korban sinetron yang ditayangkan di televisi.
Hanya sekadar melihatnya. Tak ada rona merah di kedua pipi atau pun detak jantung yang melebihi manusia normal.
Karena yang kutahu, aku hanya “menyukainya” dalam pandangan anak umur lima tahun biasa.
Manusia berstatus laki-laki dan bernama Ikki itu sudah menjadi hal yang wajib kulihat setelah kejadian kemarin lusa.
Keberuntungan atau memang kebetulan, Ibuku berteman dengan Ibunya. Karena hal tersebut, aku menjadi sering melihat bahkan bertemu dengannya. Bukan hanya saat di Taman Kanak-Kanak, namun, saat setiap kali aku dan Ibuku berkunjung ke rumahnya usai kegiatanku di TK.
Ibuku selalu memberi mereka masakan buatannya. Itu alasan mengapa kami sering datang ke rumahnya.
Ketika kami di rumahnya, Ibuku dan Ibunya Ikki pasti mengerjakan sesuatu yang saat itu belum kumengerti secara jelas. Entah itu mengobrol, memasak, atau mengerjakan hal lain yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu.
Sedangkan aku, mungkin hanya memainkan mainan milik Ikki dengan tidak jelasnya. Karena Ikki jarang sekali bermain di rumah. Yah, laki-laki memang lebih senang bermain di luar rumah, ’kan?
Tetapi aku tidak sesering itu melakukan ketidakjelasan dengan mainan milik Ikki. Aku masih ingat betul di mana aku melakukan hal yang jelas. Seperti membangunkan Ikki saat ia sedang tidur di kamarnya.
Tentu saja bukan karena aku jahil melakukannya, tetapi aku disuruh oleh Ibunya. Mungkin aku disuruh melakukannya agar aku ada teman main saat Ibuku dan Ibunya sedang ada kerjaan.
Aku pun masuk ke dalam kamarnya yang berhadapan langsung dengan ruang tamu. Dari sana, ibu kami dapat melihatku menggoncangkan tubuh Ikki sembari berkata, “Ikki bangun,” secara berulang-ulang.
Ketika aku menolehkan kepalaku kepada ibu kami一memberi tanda bahwa aku tidak berhasil membangunkan bocah laki-laki itu一mereka hanya tersenyum melihatku. Mungkin saat itu anak seusia dan sekecil diriku terlihat lucu saat melakukannya.
Aku hanya terdiam dan sekali lagi mencoba membangunkan Ikki dengan menggoyangkan bahunya. Tetapi hasilnya tetap sama, ia hanya melenguh dan menggeliat pelan tanpa berusaha membuka kedua kelopak matanya.
Karena merasa sia-sia, aku pun keluar dari kamarnya.
Ketika aku duduk di sofa ruang tamu, Ikki bangun dari tidurnya dan berjalan ke luar kamar. Ia berhenti sejenak saat tiba di depan pintu kamarnya dan menguap sembari mengucek matanya pelan lalu pergi ke arah kamar mandi. Tidak lama setelah itu, ia ke luar dari kamar mandi dan melangkahkan kakinya ke luar rumah.
Aku pun harus bermain sendiri lagi kali ini.
.
.
.
Aku juga masih ingat betul saat aku mengikuti Ibu Ikki mengejar ayam jago yang dipelihara oleh keluarga Ikki.
Ketika itu aku memuji Ibunya Ikki saat ia berhasil menangkap ayam yang kabur dari kandangnya itu.
Melihat ayam jago yang sedang dimasukkan dalam kandang, entah kenapa aku teringat akan Ikki. Mungkin karena rambutnya Ikki yang sedikit mencuat pada bagian belakangnya ... dan itu seperti ekor ayam yang kini sedang berada dalam kandangnya.
Oke, lupakan.
.
.
.
Gambar itu adalah gambar hasil karya anak sekolah dasar yang biasa, bahkan terkesan tak bernilai di mata para pelukis profesional. Goresan pensil yang menggambarkan para murid yang sedang melakukan upacara tersebut dilihatnya dengan serius.
Laki-laki yang berdiri di depan mejaku ini pun mendongakkan kepalanya一menatapku. Ia kemudian bercerita tentang gambar miliknya yang hampir sama dengan gambarku ini. Hanya saja yang berbeda adalah letak dan jumlah murid-murid yang berbaris menghadap bendera.
Saat ia menceritakan gambarnya ia tersenyum dan tertawa. Sejenak aku terpaku melihatnya. Entah kenapa ia terlihat bersinar seperti matahari siang itu. Senyum dan tawanya tulus. Dan ketika itu aku berharap agar dapat melihat senyum dan tawanya sampai kapanpun.
Aku cepat-cepat meresponnya dengan tertawa gugup dan bicara seadanya ketika ia selesai bercerita dan hampir memergokiku yang sedang menatapnya. Aku tidak mau dianggap aneh olehnya.
Ketika itu pun aku belum mengerti apa itu perasaan suka. Aku masih berumur tujuh tahun, namun aku tidak tahu mengapa saat melihatnya tersenyum dan tertawa seperti pada waktu itu, ada hal aneh yang kurasakan dalam dadaku.
Aku biarkan hal itu mengalir dalam diriku hingga berkembang sampai saat aku berusia 15 tahun. Dan aku pun mulai mengerti apa itu “suka” yang sesungguhnya.
Ketika waktu itu berjalan, aku terus saja memerhatikannya. Setiap kali aku berada di dekatnya, wajahku terasa memanas dan jantungku berdetak tak keruan.
Aku selalu menyukai perasaan ini. Sampai kapanpun itu aku ingin menjaganya.
Namun saat aku menginjak usia 16 tahun, perasaan suka itu perlahan memudar. Ia yang sekarang tidak seperti yang dulu kukenal.
Matahari yang dahulu selalu bersinar kini telah berubah menjadi awan kelabu yang terlihat suram.
Senyum dan tawanya tak lagi kulihat. Hanya ekspresi datar dan dingin yang ia tunjukkan. Wajahnya tak lagi bersinar dan terus memperlihatkan keredupan yang memilukan.
Pergaulan yang tidak sehat menjatuhkannya ke dalam lubang hingga yang terdalam. Tak ada lagi prestasi dan kebanggaan yang terlihat oleh mataku di dalam dirinya.
Ia kini layaknya seorang anak yang tak mengerti arti kehidupan. Sinarnya telah luntur oleh kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia.
Tak ada yang bisa kulakukan. Aku tak dapat mengubahnya seperti sedia kala. Sebuah kejadian yang terjadi delapan tahun yang lalu membuat komunikasi di antara kami memburuk.
Aku tak lagi bicara dengannya. Sejak saat pengakuan dan penolakan itu, aku lebih sering memerhatikannya dari jauh dan tidak berusaha untuk berada dalam jarak yang dekat dengannya.
Aku pun memutuskan untuk melepasnya dari pikiran dan hatiku. Meski berat menghilangkan perasaan ini, aku berusaha untuk tidak mengingat-ingat kejadian masa lalu lagi saat aku bersama dengannya.
Ia memang yang pertama bagiku, tapi ternyata ia bukan yang menjadi terakhir dalam hidupku. Aku tak menyesalinya. Sungguh.
Bukankah akan selalu ada kesempatan? Semuanya akan indah pada waktunya, bukan?
Ya, saat itu bukanlah waktunya yang tepat untukku. Saat itu bukan dialah yang terbaik untuk mengisi kehidupanku. Saat itu bukanlah matahari yang tepat yang menyinari hari-hariku.
Mungkin, suatu saat nanti. Suatu saat nanti ketika tak ada lagi matahari yang berubah menjadi awan kelabu. Ketika tak ada lagi rintik hujan yang jatuh dari langit.
Aku akan menunggu sampai hari itu datang, menyambutku dengan sinar mentari yang menyapa dengan hangat.
.
.
.
“Hei, lihat, ini gambarku ...! Orangnya beda, kan, dengan yang kamu gambar? Di sini ada dua baris, lho ...!”
“Ah! I-iya beda ... orangnya lebih banyak, ya?”
.
.
.
FIN
.
.
“Hei, lihat, ini gambarku ...! Orangnya beda, kan, dengan yang kamu gambar? Di sini ada dua baris, lho ...!”
“Ah! I-iya beda ... orangnya lebih banyak, ya?”
.
.
.
FIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar