
Aneka pesan / tayangan / program yang harus diwaspadai di media massa, meliputi:
- Seks dan kejahatan.
- Kekerasan.
- Pornografi.
- Sinetron remaja yang “jual mimpi”.
- Komedi situasi yang tidak mendidik.
- Infotaiment yang mengetengahkan gosip, melanggar prinsip privacy, dan sebagainya.
- Tayangan mistis yang cenderung mendegradasikan fungsi pemuka agama dan peran agama.
- Tayangan yang menempatkan tokoh yang tidak layak menjadi “model peran” (role model).
- Iklan-iklan yang menyesatkan.
- Tayangan musik, videoclips yang berasosiasi dengan pemujaan terhadap kekerasan, setan, hidup bebas, baik yang tercermin dalam lirik maupun gaya pembawaan penyanyi dan pemain band.
- Berita atau tayangan yang melecehkan kelompok sosial tertentu (pelecehan terhadap wanita, pelecehan terhadap pembantu rumah tangga).
- Film atau cerita asing yang menampilkan nilai-nilai yang sangat asing bahkan bertentangan dengan nilai kehidupan sosial kita.
- Cerita atau tayangan berpretensi pendidikan tetapi justru tidak mendidik.
- Cerita atau tayangan yang melecehkan logika.
Dampak negatif bagi remaja bila mengonsumsi media tanpa sikap kritis:
- Kecenderungan berpikir linear (media, terutama TV cenderung mengabaikan logika dan analisis karena pertimbangam waktu).
- Media addict (kecanduan media): mengonsumsi isi media dengan mengalokasikan waktu-waktu produktif sehingga menimbulkan kemubaziran waktu.
- Escapism: melarikan diri dari masalah tanpa pernah mencoba menghadapi dan memecahkan masalah.
- Kehilangan kepekaan (desensitizing process): misalnya melihat kekerasan sebagai kewajaran karena terlalu banyak diekspos oleh berita-berita maupun tayangan-tayangan kekerasan.
- Mudah mengubah nilai (values): media, terutama TV, adalah sumber utama perubahan nilai-nilai budaya. Itulah sebabnya, cara berpikir, bersikap, dan berperilaku yang diadopsi dari apa yang dilihat, didengar, dan dibaca, disebut budaya massa (pop-culture).
- Fatalism: sikap mudah menyerah dan menerima tanpa merasa perlu berusaha (cerita-cerita “potong kompas” yang menekankan hasil dan tidak pernah mengungkapkan proses).
- Gagal membedakan realitas media dengan realitas empiris (cerita-cerita “jual mimpi” ala Raam Punjabi).
- Memilih model peran (role model) yang buruk (sinetron ABG, infotaiment yang menampilkan artis yang kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya “amburadul”).
- Percaya pada takhyul: TV saat ini sarat dengan cerita hantu dan cenderung memosisikan pemuka agama sebagai pengusir hantu.
- Meniru tanpa menyadari makna dan simbol pendukungnya, terutama musik di TV dan video klip musik yang menampilkan penyanyi dan musik rock. Gaya penyanyi rock yang sensual, lirik yang mengagungkan kebebasan seks bahkan memuja setan dan mempertontonkan kelakuan yang sadistis. Contoh: grup musik KISS (Kid’s in Satan’s Service) atau Sepultura (arti:peti mati).
- Hedonism: mengagungkan materi dan mengasosiasikan kepemilikan materi sebagai simbol keberhasilan.
- Comsumptivism: gaya hidup konsumtif sebagai dampak penyaksian iklan maupun gaya hidup selebritas.
- Mengurangi kesempatan bersosialisasi karena tingginya waktu berinteraksi dengan media.
Sikap remaja yang seharusnya terhadap media:
- Harus berani mengendalikan media dan jangan sampai dikendalikan media.
- Mengembangkan kewaspadaan media (media awareness dengan menyadari bahwa media mengandung nilai-nilai tertentu yang berpotensi dapat berpengaruh buruk bagi kehidupan kita.
- Batasi waktu pemanfaatan media sehingga lebih banyak waktu yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih produktif.
- Perkuat ketahanan iman dengan banyak berdiskusi mengenai isi media, berdoa, dan menjadikan figur Bunda Maria, Mother Theresa, Paus Yohanes Paulus II atau orang kudus lainnya sebagai model peran.
- Last but not least, seorang pakar pendidikan pernah menulis buku yang berjudul: 18 Reasons Why Television Should be Eliminated.
Dapatkah kita mengambil manfaat siaran televisi yang kehadirannya tidak mengenal ruang, jarak, dan waktu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar