Laman

Rabu, 10 Februari 2016

Græg



Original Story by Maria Putri

Græg

Maria Putri © 2016


Jika cerita ini mainstream, garing, bikin sakit mata, hati, pikiran dan tidak sesuai dengan peraturan tertentu yang telah dibuat oleh kelompok tertentu, harap maklum bagi yang membaca karena cerita ini dibuat hanya untuk kesenangan semata tanpa unsur-unsur kesengajaan apapun.

Pokoknya...

DON'T LIKE, DON’T LOOK, DON'T READ, DON’T BASH!

.
.
.
Aku menatap langit yang begitu menawan sore itu, duduk tenang di atas kursi―terpaku pada gerakan awan yang berkumpul dan bersatu menjadi bentuk abstrak yang mengagumkan.

Sejenak aku menikmati suasana sore yang berbeda dari biasanya dan merasakan hembusan semilir angin menyejukkan yang menerpa wajahku.

Sudah sekitar setengah jam ritual ini kulakukan sendirian. Biasanya sepulang kuliah aku selalu minta untuk ditemani mamaku duduk di atas kursi bambu ini yang sengaja diletakkan di teras depan rumah untuk bersantai dan melepas penat dari segala rutinitas yang melelahkan.

Jika sedang berdua dengan mama, aku selalu bercerita segala hal menarik yang terjadi di kampus. Entah itu tentang teman-temanku atau tentang hal-hal baru yang kulakukan selama aku berada di kampus. Sesekali mama akan menanggapi ceritaku dengan tertawa atau memberikan nasihat. Mama terkadang juga akan bercerita jika aku sudah kehabisan topik pembicaraan.

Tapi untuk kali ini sepertinya aku tidak bisa saling berbagi cerita dengan mama karena aku sedang ingin sendiri dan akan membiarkan mama beristirahat di dalam rumah tanpa harus mendengar celotehanku yang terkadang tidak jelas ujungnya.

Lelah menatap langit yang mulai berubah warna menjadi kehitaman, aku memilih untuk beralih manatap direksi lain.

Hanya beberapa senti saja mataku mengubah arah, pikiranku langsung dipenuhi oleh banyak hal yang rumit.

Tepat di depanku, aku menatap sebuah objek yang sudah tidak asing lagi bagiku. Objek yang selalu kulihat setiap harinya kala aku akan keluar atau masuk ke dalam rumah. Objek yang letaknya hanya beberapa langkah saja dari pintu gerbang rumahku. Objek yang ukurannya tidak ada bedanya dengan ukuran rumahku. Objek yang menjadi naungan bagi seseorang yang selalu memenuhi pikiranku selama ini.

Ya, objek yang adalah sebuah rumah yang ditempati oleh satu keluarga yang termasuk seorang laki-laki yang usianya hanya berbeda beberapa bulan saja denganku.

Sangat mudah bagiku melihatnya dari tempatku duduk karena gerbang pintu rumahku tidak terlalu tinggi dan kebetulan gerbang rumahnya juga sama tingginya.

Seperti tidak ada yang namanya rasa bosan, aku selalu menjadikannya destinasi pandanganku setiap harinya. Oleh karenanya, aku sangat hafal sekali kebiasaan-kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap hari. Bahkan hal-hal yang selalu terjadi padanya pun aku tahu dengan jelas.

Aku sering sekali melihatnya mengerjakan pekerjaan rumah, hal yang biasanya jarang sekali dilakukan bahkan terkesan dihindari oleh sebagian besar anak remaja laki-laki. Sebagai anak pertama ia termasuk anak yang rajin, hal itulah yang membuatku kagum padanya.

***

Orang-orang biasa memanggil laki-laki yang selalu kuperhatikan itu dengan nama Aryo namun aku lebih memilih untuk memanggilnya Yoyo sebagai panggilan akrabku dengannya. Untungnya dia tidak keberatan jika aku memanggilnya dengan nama itu dan aku pun senang karena hanya aku yang memanggilnya dengan nama itu.

Yoyo memiliki adik perempuan yang usianya terpaut di bawah lima tahun dengannya. Namanya Rika. Aku cukup dekat dengan Rika bahkan kami sering berkirim pesan sekedar untuk menanyakan kabar dan beberapa hal yang mungkin cukup penting.

Selain dengan adiknya, aku dan Yoyo juga dekat. Sangat dekat. Kami bersekolah di Sekolah Menengah Atas yang sama. Bahkan kami satu kelas. Hampir setiap hari aku selalu pulang dengannya. Ia selalu menawariku tumpangan jika kami kebetulan berpapasan di gerbang sekolah saat jam pulang tiba.

Senang rasanya saat bisa berdekatan dengan Yoyo. Walaupun jarak terdekatku hanya terjadi pada saat pulang sekolah dan naik sepeda motor berdua dengannya, hal itu sudah cukup membuat ritme jantungku berdetak tak beraturan.

Sepanjang perjalanan pulang aku selalu mengajaknya mengobrol namun obrolan akan terhenti jika posisi kami sudah berada di tikungan yang tidak terlalu jauh dari rumah.

“Yo, sampai di sini saja.” ucapku seraya menepuk punggung Yoyo dan kemudian ia menghentikan sepeda motornya.

“Sip.” balas Yoyo. “By the way, kenapa sih kamu selalu minta untuk diturunkan di sini? Kenapa tidak sekalian saja sampai di depan rumah? Rumah kita depan-depanan, ‘kan.” lanjutnya kemudian.

“Itu... aku sudah pernah bilang padamu sebelumnya. Tidak enak dengan tetangga.” jawabku jujur.

“Tidak enaknya kenapa, sih? Dari pertama kali aku bertanya jawabanmu selalu saja tidak enak.”

“Tidak enak ya tidak enak. Pokoknya tidak enak. Sudah, ah, banyak tanya. Bye!” aku pun langsung memilih untuk mengambil langkah seribu daripada meladeni pertanyaan-pertanyaan Yoyo yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dijawab.

“Apaan, sih? Dasar aneh.” Yoyo kembali menyalakan sepeda motornya kemudian melanjutkan perjalanan pulang yang jaraknya hanya beberapa meter lagi saja ke rumahnya.

***

Aku ingat sekali waktu itu saat pulang sekolah di musim kemarau bulan Mei. Hari itu aku tidak pulang dengan Yoyo. Aku pulang sendiri dengan naik angkutan umum. Yoyo tidak pulang bersamaku karena ia bilang mau latihan sepak bola dengan timnya di sekolah. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri saja.

Setelah selesai mengganti baju dan makan siang aku memutuskan untuk duduk di tempat duduk favoritku. Panasnya terik matahari siang itu membuat tanganku terus bergerak dengan gerakan mengibas untuk menghadirkan angin yang setidaknya dapat menghilangkan peluh.

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara motor yang sangat kukenal. Aku pun membenarkan posisi dudukku agar dapat melihat orang yang sejak pulang sekolah tadi kunanti kehadirannya.

Alih-alih mendapat pandangan yang dapat menyegarkan mata dan hati, aku justru mendapat pandangan heran sekaligus membuat hatiku panas.

Yoyo tidak pulang sendirian. Ia bersama dengan seorang anak perempuan yang memakai seragam sekolah yang sama sepertiku dan Yoyo. Sudah dapat dipastikan dia satu sekolah dengan kami. Hanya saja aku tidak mengenal siapa anak perempuan itu.

Setelah turun dari sepeda motornya, sekilas Yoyo melihatku namun ia segera mengalihkan pandangannya dan meraih pergelangan tangan anak perempuan yang bersamanya kemudian masuk ke dalam rumah.

Seketika aku merasa sakit melihat kejadian barusan. Yoyo tidak menyapaku seperti biasanya bahkan untuk melihatku saja ia enggan. Ada apa sebenarnya?

Lalu, anak perempuan itu. Apakah itu kekasih Yoyo? Mengapa Yoyo tidak pernah bercerita padaku jika ia dekat dengan seseorang? Mengapa ia diam-diam melakukan hal ini?

Memang, aku tidak dapat menyalahkan Yoyo karena ia sudah memiliki seorang kekasih karena perasaan yang kumiliki juga hanyalah perasaan sepihak.

Aku menyukai Yoyo. Tapi aku tidak tahu apakah Yoyo juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, namun dengan adanya kejadian berusan aku sudah dapat menyimpulkannya.

Yoyo sudah punya kekasih dan itu artinya ia tidak menyukaiku.

Cintaku bertepuk sebelah tangan.

***

Banyak orang yang bilang jika aku adalah orang yang tidak jelas. Aku tidak mengerti, bagian mana dari diriku yang tidak jelas. Apakah karena aku sering bercerita dengan akhir cerita yang membingungkan atau karena aku sering menyeletuk tanpa alasan yang logis atau dari cara bicaraku yang suka ke mana-mana? Entahlah aku juga tidak tahu.

Tapi ternyata ada orang yang lebih tidak jelas daripada aku.

Orang itu adalah Yoyo.

Laki-laki yang kusukai itu ternyata juga bisa bersikap tidak jelas. Seenaknya mengirim pesan singkat dan berkata yang aneh-aneh saat ia melihatku bersama dengan teman laki-laki yang satu kelas dengan kami.

Saat itu aku sedang mengerjakan tugas kelompok dari guru Bahasa Inggris. Aku tidak satu kelompok dengan Yoyo melainkan satu kelompok dengan Rizky.

Aku dan Rizky memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut di rumahku. Saat jam pelajaran sekolah usai, aku pulang bersama dengan Rizky dan mengerjakan tugas kelompok itu berdua dengannya di rumahku.

Ketika aku dan Rizky tiba di gerbang rumahku, kami melihat Yoyo yang baru saja masuk ke rumah dan akan menutup gerbang pintu rumahnya. Yoyo pun melihat kami berdua tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

“Hai, Yo!” Rizky menyapa Yoyo namun tidak digubris sama sekali oleh Yoyo. Yoyo justru masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.

“Kenapa dia, Tar?” tanya Rizky kebingungan melihat tingkah teman sekelasnya yang mendadak aneh.

Aku menggendikkan bahu tanda tak tahu dengan tingkah Yoyo barusan. “Entah. Kesambet, mungkin.” jawabku asal dan Rizky hanya tertawa garing mendengar jawabanku.

Kami pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.

Sementara Rizky mempersiapkan buku-buku untuk mengerjakan tugas aku ke belakang untuk mengambil minum dan beberapa kotak makanan ringan lalu kembali ke ruang tamu dan mulai mengerjakan tugas.

Baru saja akan membuka buku, telepon genggamku berbunyi tanda ada pesan singkat yang masuk.

“Maaf, ya, Ky. Aku lihat handphone dulu, tidak apa-apa, ‘kan?”

“Iya, tidak apa-apa. Santai saja, Tar.” Rizky melanjutkan membuka bukunya dan aku mengambil telepon genggamku dari tas.

“Dari Yoyo? Ada apa?” pikirku dalan hati.

Aku terkejut melihat pesan singkat yang dia kirimkan padaku. Entah maksudnya untuk apa aku tidak mengerti. Tiba-tiba dia mengirim pesan dengan nada yang terkesan emosi dan menunjukkan kalau dia tidak suka jika aku membawa Rizky ke rumahku.

Ada apa, sih, dengan dia? Aku dan Rizky ‘kan hanya ingin mengerjakan tugas kelompok, kenapa dia sampai mengirim pesan yang maksudnya saja tidak aku mengerti seperti itu. Dia marah? Tapi untuk apa? Lagipula Rizky ‘kan juga teman sekelasnya. Aneh....

“Ada apa, Tar? Alismu sampai mengeryit seperti itu?” Rizky akhirnya bertanya karena melihat perubahan pada wajahku yang tiba-tiba setelah membaca pesan singkat yang aku terima.

“Ah, ini bukan apa-apa. Hanya orang iseng kirim pesan, katanya ‘tolong isikan mama pulsa’.” jawabku bohong.

“Oh, haha, pantas saja mukamu jadi aneh begitu. Lagi pula mamamu ada di rumah, ‘kan?” tanya Rizky.

“Iya, mama sedang nonton TV.” jawabku kali ini jujur. “Sudah yuk, kita kerjakan tugasnya.”

“Oke!”

Aku mengerjakan tugas dengan keadaan yang kurang fokus. Pikiranku masih tertuju pada pesan singkat yang Yoyo kirimkan padaku. Entah maksudnya apa dan mengapa dia tiba-tiba mengirimkannya, aku sama sekali tidak tahu. Aneh, ‘kan? Tidak jelas, ‘kan?

***

Hubunganku dengan Yoyo mulai merenggang sejak ia sudah memiliki kekasih dan semakin merenggang sejak kejadian pesan singkat itu.

Beberapa minggu setelahnya aku melihat Yoyo membawa anak perempuan lagi ke rumahnya namun anak perempuan itu berbeda dengan anak perempuan yang pernah Yoyo bawa ke rumahnya pertama kali.

Mungkin kali ini kekasih barunya dan dengan yang waktu itu sudah putus. Wah, hubungannya ternyata tidak selama yang aku pikirkan. Aku pikir Yoyo adalah tipe laki-laki yang dapat mempertahankan suatu hubungan dalam jangka waktu yang lama, ternyata aku salah.

Bohong jika aku berusaha untuk tidak peduli dengan kehidupan pribadi Yoyo terutama yang menyangkut masalah asmaranya. Nyatanya aku selalu merasa ingin tahu semua hal yang berkaitan dengan Yoyo.

Aku selalu mencari tahu tentang semua hal yang berkaitan dengan dia. Sampai-sampai aku tahu semua nama-nama mantan kekasih dan kekasih Yoyo. Apa aku terlalu berlebihan?

Aku terus menggali informasi mengenai Yoyo baik melalui media sosialnya ataupun bertanya pada Rika.

Hal ini terus kulakukan hingga aku masuk ke perguruan tinggi.

Aku dan Yoyo masuk ke universitas yang berbeda dan hal inilah yang membuatku bertambah gencar untuk mencari informasi keadaannya di manapun dan kapanpun berada. Seakan tidak pernah lelah aku terus saja membaca kabar-kabar yang selalu dia kirimkan di salah satu media sosialnya.

“Kamu sedang apa, Tar? Stalking, ya?” tertangkap basah oleh teman sekelas di kampus saat sedang jam mata kuliah berlangsung, aku pun hanya bisa menyengir ria.

“Aryo lagi?” tanya Meiri lagi. Aku hanya bisa nyengir kuda untuk yang kedua kalinya.

Meiri menghela napas. “Mau sampai kapan? Kamu tidak bosan? Aku bosan, lho, melihat kelakuanmu yang begini terus setiap harinya.” Meiri mulai tidak mendengarkan dosen yang sedang menyampaikan materi kuliah dan akan mulai menyeramahiku.

Ya, siapa yang tidak bosan dengan kelakuanku yang terus-menerus menjadi stalker-nya Yoyo. Teman-teman di kampus yang sudah pernah kuceritakan tentang Yoyo pasti hafal betul dengan kebiasaanku ini. Makanya mereka juga selalu memberiku ceramah untuk menghentikan sifatku yang terkesan kurang kerjaan ini.

“Habisnya...” aku menggantungkan kalimatku, tidak tahu harus menjawab apa lagi.

“Kamu itu suka? Apa obsesi? Sampai segitunya, lho. Tidak wajar, Tar. Sudah, ah, masukin handphone-mu ke dalam tas. Sedang ada perkuliahan ini.” Meiri mulai gerah dengan kelakuanku.

“Iya, iya....”

“Iya, iya doang!” ketus Meiri.

“Ih, iya, nih, iya dimasukin.”

Terkadang aku kesal dengan teman-temanku yang seolah menghakimi dan bersikap seenaknya padaku padahal mereka tidak tahu dan tidak merasakan bagaimana rasanya ada di posisiku. Tapi aku sadar kalau aku salah dan seharusnya aku tidak bersikap seperti ini.

Hanya saja aku masih sulit untuk menerima keadaan Yoyo yang sekarang menjadi semakin jauh dengan sikap anak baik-baik. Aku juga masih sulit untuk tidak mencari informasi mengenai dirinya. Rasanya seperti ada yang hilang jika sedetik saja aku tidak melihatnya.

Sejak berkuliah, aku dan Yoyo semakin jarang berkomunikasi. Dia hanya akan menghubungiku jika sedang ingin butuh bantuan. Aku kesal dengan sikapnya itu, tapi aku tetap saja membantunya. Dan setelah itu dia akan kembali menghilang sampai jika ada bantuan yang dia butuhkan lagi, dia baru akan datang kepadaku.

Apa benar yang dikatakan Meiri dan teman-temanku kalau aku hanya terobsesi dengannya? Tapi aku merasa aku suka dengannya dan tindakanku ini wajar.

Tapi apakah wajar jika sudah mengetahui sifat dan sikap buruk seseorang dan aku tetap menyukainya? Apakah wajar jika menyukai seseorang yang hanya membutuhkanku hanya pada saat ia memerlukan bantuan? Apakah semua itu wajar?

Aku bingung. Sepertinya yang orang-orang katakan tentang diriku memang benar adanya bahwa aku tidak jelas. Aku tidak bisa bersikap tegas untuk menentukan hatiku. Aku terlalu terperosok ke dalam cinta buta.

Sebenarnya mungkin aku juga bodoh karena aku terlalu jatuh cinta bahkan sampai terobsesi dengan orang yang sudah lama kusukai. Aku bahkan tidak pernah mau membuka hatiku untuk orang lain karena Yoyo padahal aku tahu bahwa Yoyo sulit untuk aku gapai.

Teman-teman selalu mengatakan bahwa mereka tidak akan setuju jika aku bersama dengan Yoyo. Mereka juga selalu mengatakan bahwa ada laki-laki yang lebih baik daripada Yoyo, dan aku tidak pantas bersama dengan Yoyo.

Aku selalu berusaha untuk menjauh dari segala macam hal yang berhubungan dengan Yoyo, tapi itu tidak bisa.

Aku nekat untuk membuat janji dengan Meiri agar melupakan Yoyo karena kupikir hal tersebut akan membuatku melupakan dia secara utuh. Nyatanya janji hanyalah janji dan aku pun mengingkarinya tanpa sepengetahuan Meiri walaupun pada akhirnya Meiri mengetahuinya dan akhirnya ia kesal dengan tindakanku.

Memang mengatakan sesuatu itu lebih mudah daripada melakukannya.

Nyatanya aku selalu berusaha. Berusaha dan berusaha. Berusaha melupakan Yoyo. Berusaha... berusaha....

Tapi... apakah sebenarnya aku memang sudah berusaha? Ataukah aku memang tidak pernah berusaha? Apa sebenarnya memang aku selalu merasa bahwa ini adalah hal yang seharusnya aku lakukan dan tidak harus aku hentikan? Apa aku sudah benar? Atau aku salah?

Aku tidak tahu tindakan apa yang harus aku ambil. Aku tidak tahu sampai kapan aku harus berlarut-larut dalam ketidakpastian yang dibuat oleh diriku sendiri seperti ini.

Sampai kapan aku harus hidup dengan dibayang-bayangi oleh perasaan abu-abu ini? Sampai kapan aku harus terus hidup dengan bersikap seperti ini?

Tidakkah aku lelah? Tidakkah aku menyerah? Tidakkah aku malu? Tidakkah aku merasa bersalah?

Seseorang tolong bantulah aku untuk melupakan dia yang sudah membuatku jatuh jauh ke dalam lubang yang sempit dan gelap ini.

Aku lelah dengan perasaan dan semua yang telah aku alami. Ingin rasanya aku menyerah dan melambaikan tangan meminta uluran tangan dari siapa saja yang bersedia menolongku.

Aku malu dengan sikapku yang kian hari menjadi semakin labil dan tidak dewasa. Aku merasa bersalah dengan teman-temanku yang sudah berusaha membantuku untuk menghilangkan perasaan ini tapi aku justru menolak bantuan mereka.

Dengan sangat aku akan meminta bantuan kepada teman-temanku lagi, aku janji aku tidak akan melakukan kesalahanku untuk yang kesekian kalinya. Aku janji aku akan memblokir Aryo, melupakan Aryo dan tidak akan mencari tahu informasi apapun lagi tentang Aryo. Aku janji....

Aku harap mereka akan membuka pintu hati mereka untuk membantuku karena kupastikan kali ini aku akan menepati janjiku pada mereka.

Janji.

***

Langit sepenuhnya sudah berubah warna menjadi hitam. Bintang mulai nampak menghiasi langit malam.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat hingga aku tak sadar mama sudah berdiri di sampingku dan menepuk bahuku karena aku sibuk bergelut dengan pikiranku sendiri.

“Tari, sudah malam. Ayo masuk ke dalam.” ucap mama lembut dengan penuh senyum.

“Ah, iya, Ma.” balasku sembari tersenyum. Aku berdiri dari kursi bambu dan mengekor di belakang mama.

Selangkah sebelum aku masuk ke dalam rumah sekali lagi aku berpaling, melihat ke direksi yang menjadi fokus pikiranku selama beberapa menit yang lalu. Biarkan detik ini menjadi detik yang terakhir kalinya aku menyimpan perasaan kepada Aryo karena setelah ini aku akan mengucapkan selamat tinggal dengan tegas dan hati yang mantap untuk kemudian mengubur perasaan ini tanpa ada rasa sesal yang tertinggal.
.
.
.
Fin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar