
Tahukah kau?
Namamu laksana virus yang selalu memapar pada tiap bagian tubuhku.
Selalu menyerangku bagaikan bibit penyakit yang merasuki setiap jaringan darah dan jaringan limfaku.
Entah sejak kapan kau berhasil menembus membran mukosaku dengan mudahnya, membuat organ limfoidku tak berfungsi dengan semestinya.
Akhirnya aku pun mengasorpsi perasaan ini secara berlebihan.
Tanpa kusadari, dirimu telah mengisi ruang antara sel-sel di jaringan darahku, bermuara di dalam pembuluh-pembuluh dan otot rangkaku.
Aku berusaha untuk terus bersifat nonspesifik, menghalangi dirimu yang menyerang hatiku layaknya patogen dalam sel.
Namun ternyata sel natural killer dalam tubuhku tak mampu membunuh perasaan ini yang kian hari kian melambung.
Interferon pun tak dapat melindungi diriku dari sinyal yang telah kau ciptakan.
Pada akhirnya antibodiku pun melemah seiring dirimu yang terus merasuki tubuhku setiap detiknya, yang tak dapat kutawarkan hanya dengan setetes antitoksin.
Dan ketika kau membiarkanku menantimu hanya demi sebuah penerimaan, autoimunitaslah yang justru menghampiriku, membuatku menyakiti perasaanku sendiri yang terombang-ambing dalam limfosit kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar