Laman

Rabu, 31 Agustus 2022

BIRU

Hei kawan, aku tahu kau memintaku untuk diam membisu.

Tapi aku tak mau termangu dan tenggelam dalam waktu yang terus berpacu.

Aku berharap, aku tak keliru, mengambil langkah meski tak seribu karena jauhnya jarak dan kesibukan yang terkadang tidak membantu.

Namun dalam sela, kita selalu sempatkan untuk berbagi rasa meski itu terlalu kelu. 


Di balik serinya air mukamu, kaucoba mengadu sambil tersedu walau tetap ada ragu.

Dalam isakmu kauberkata bahwa lembaran yang baru terasa pahit bagaikan empedu dan hatimu selalu pedih bagaikan terkena sembilu.

Paksaan bertumpu di balik senyum palsu hanya bisa membuat lesu.

Pikiran dan hati yang saling berseteru mendatangkan pilu yang kian hari kian menderu.

Jalan yang terus berliku membuat kaki akhirnya membatu, tak tahu arah mana yang harus kautuju.

Satu per satu paku pun mereka tancapkan padamu tanpa ragu, menciptakan rasa sakit yang menusuk kalbu.


Maaf aku tak bisa menggenggammu layaknya dahulu, namun kucoba sampaikan ini dalam sendumu.

Ketika derai air mata jatuh membelenggu, ketika tubuhmu tak lagi kuat menumpu, dan ketika mereka tak lagi mengampumu, coba lihatlah ke atas pada langit yang biru, pada burung-burung kecil yang sedang terbang tak menentu, dan pada bunga merah yang dihinggapi kupu-kupu.

Makanlah makanan kesukaanmu.

Dengarkanlah lagu-lagu favoritmu.

Lakukanlah hobimu di sela kesibukanmu.

Buang sejenak keluh kesahmu.

Berceritalah meski harus bersembunyi dalam rambu.

Memang semua itu tidak langsung membuat lalu, tapi setidaknya dapat membuatmu tenang dari sangkar masalah yang bagaikan hantu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar