Laman

Minggu, 05 Juni 2016

Jealousy Junkie [Review Novel]


Ramalan Persahabatan

Judul : Jealousy Junkie
Penulis : Carrie Bright
Penerbit : Mahda Books, Jakarta, Juni 2009
Tebal : 210 hlm


Novel sastra remaja ini merupakan novel terjemahan dari seorang novelis yang berasal dari Inggris. Novel ini memiliki ciri khas sendiri. Dengan mengkaji sebuah potret kehidupan yang mungkin terjadi di dalam kehidupan sebagian remaja masa kini. Kisah persahabatan, percintaan, keluarga, dan berbagai problema yang ada di dalamnya tersaji dengan epik di novel ini.
Ada beberapa hal yang menarik dari novel ini, salah satunya adalah ajakan untuk berusaha menjadi diri sendiri, karena setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Selain itu, novel ini juga mengajak kita untuk mensyukuri keadaan kita meski hidup dalam berbagai kekurangan.

Carrie Bright mengaku sebagai pecandu buku dan majalah. Dia lahir di Wales kemudian pindah ke Inggris dan menetap di Yorkshire Selatan. Karena merasa kikuk saat menjadi “siswi baru di sekolah”, membuatnya sering kali bersembunyi di balik sampul-sampul buku. Sebagai seorang remaja, dia sering mengunjungi sobat karibnya dan membaca semua majalahnya, satu demi satu. Jika sempat mereka akan mencoba tips paling top dan fitur fashion yang ada di dalam majalah tersebut. Carrie setidaknya masih ingat untuk mencampurkan lipstick warna krem, memakai pakaian “korban mode” dan berharap punya sedikit rasa khawatir seperti yang dia baca di halaman problema. Berada di sekolah khusus perempuan hanya bisa memimpikan kisah cintanya yang mungkin telah menginspirasi cerita Maddy. Saat ini Carrie bekerja paruh waktu sebagai gadis penjaga perpustakaan.

Maddy Blue seorang gadis SMA yang maniak sekali dengan majalah, suatu hari ia mendapat pemberitahuan dari majalahnya. Majalah yang baru ia beli itu meramalkan bahwa ia akan kehilangan sahabatnya.

Keesokan harinya ia berangkat ke sekolah bersama Scott, sahabatnya. Di jalan ia selalu terpikirkan oleh apa yang dikatakan Destiny Dreamer, majalahnya, “Mampukah persahabatan lama bertahan menghadapi ujian?”.

Karena di sekolahnya pada hari itu akan diadakan tes IPA, maka Scott mengajak Maddy untuk belajar dengan cara tanya jawab. Tetapi Maddy masih sibuk dengan majalah barunya. Sesaat sebelum guru mereka datang, Miss Bruce, ada seorang guru lain yang memunculkan kepalanya dari balik pintu dan mengatakan bahwa Miss Bruce akan datang terlambat karena harus mengantarkan murid baru ke resepsionis. Murid baru itu perempuan, bernama Starr. Maddy pun terkejut dan berpikir, apakah cewek baru ini yang akan menghancurkan hidupnya? Ia terus bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kalau cewek baru ini mau jadi temannya? Bagaimana reaksi Scott? Apakah ia dan Scott harus berpisah? Karena ketakutan, Maddy mengajak Scott untuk melakukan tes persahabatan lima menit dari majalahnya. Pada awalnya Scott tidak mau, tetapi karena Maddy terus memaksa akhirnya Scott pun luluh.

Lima menit kemudian, setelah mereka mengisi pertanyaan dari majalah tersebut, mereka pun mendapatkan hasilnya. Maddy mendapat skor tertinggi. Maddy pun menjadi senang dan tenang. Ia tetap percaya bahwa persahabatannya dengan Scott pasti akan sanggup melewati ujian, seperti yang dikatakan oleh majalah itu.

Tidak lama kemudian, pintu kelas terbuka tiba-tiba. Miss Bruce berjalan masuk ke kelas dan ada murid baru yang membuntuti di belakangnya. Dia terlihat bercahaya. Kemudian Miss Bruce menyuruhnya menempati meja kosong di depan Scott. Setelah Miss Bruce menyelesaikan absensi, ia memilih seseorang untuk menjaga dan memandu Starr sepanjang minggu ini. Dan yang terpilih adalah Scott. Maddy menjadi kesal. Ia pun berusaha untuk melawan Starr sebisa mungkin seperti yang biasa ia lakukan di saat krisis. Tapi lama-kelamaan Maddy pun merasa tidak nyaman dengan sikap bencinya terhadap Starr. Pada akhirnya Starr harus pindah sekolah dan Maddy merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan saat ia masih membenci Starr. Maddy pasti akan sangat merindukan Starr setelah kepindahannya walaupun Maddy masih punya Scott di sisinya.

Kendati novel ini banyak mengundang pujian dari banyak pihak, termasuk mereka yang seharusnya bisa bersikap lebih kritis, ada beberapa catatan penting yang dapat kita ajukan kepada pengarangnya. Seperti yang dikatakan oleh penerbit, kelemahan yang terdapat dalam novel ini adalah banyaknya istilah-istilah “unik” yang secara sengaja tidak diterjemahkan dengan alasan untuk tidak menghilangkan ciri khas ceritanya. Di dalam novel ini juga terdapat kesalahan pengetikan, misalnya ada beberapa kata yang hurufnya kurang atau bisa dikatakan hilang.

Di samping kelemahannya, novel ini juga memiliki banyak kelebihan. Dalam novel ini, Carrie banyak memberikan gambar-gambar unik dan lucu yang sesuai dengan jalan ceritanya. Hal tersebut memungkinkan untuk pembaca agar tidak cepat bosan. Selain itu, novel ini juga memberikan amanat yang cukup baik lewat potret kehidupan yang sering terjadi di kalangan remaja. Bahan materinya pun baik, hal itu dapat dilihat dari kertasnya yang cukup tebal untuk ukuran sebuah novel.

Mengingat banyaknya istilah-istilah unik yang tidak diterjemahkan dalam novel ini, mungkin akan lebih baik jika dalam cetakan atau buku berikutnya Carrie menambahkan glosarium atau catatan kecil/footnote yang dapat menjelaskan pengertian dari istilah-istilah tersebut. Bukan hanya itu, mungkin juga Carrie dapat menyisipkan arti-arti dari Bahasa Inggris yang dibuat secara lain (slang), agar pembaca yang awam dapat lebih memahami jalan cerita tersebut.

Novel ini juga menggemakan sebuah kebenaran bagi kita semua. Kecemburuan bukanlah hal yang terbaik, melainkan rasa kasih sayang akan persahabatanlah yang harus kita tanamkan. Dari novel ini kita dapat memetik pelajaran berharga, ada sesuatu yang lebih penting dari hidup ini dari sekadar merasakan kecemburuan kepada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar