Laman

Selasa, 28 Februari 2012

Pahlawan dari Bus Agra Mas

Original Story by Maria Putri

Pahlawan dari Bus Agra Mas © Maria Putri

DON'T LIKE, DON'T READ!

oOo

Terik matahari yang tepat di atas kepala siang itu sungguh tidak bersahabat. Panasnya menyengat hingga di tempat aku berdiri—di pinggir jembatan lampu merah Pasar Rebo.

Aku berdiam mematung dengan mulut terbungkam, menanti sebuah angkutan yang biasa kutumpangi saat pergi dan pulang untuk menuntut ilmu di sebuah universitas.


Dalam kesendirianku di tengah keramaian kendaraan yang sedang melintas, mataku menatap liar orang-orang yang melewati sebuah titik—tempat di mana aku berada.

Sorot mata dan ekspresi itu bukanlah yang pertama kali kulihat. Dan saat itu juga bukanlah yang pertama kalinya otakku bekerja tentang apa yang kulihat di wajah mereka. Dengan tidak baiknya otakku terisikan pikiran bahwa mereka bukanlah orang yang bersahabat. Di zaman sekarang ini terlebih di kota-kota besar seperti ini sudah sangat sulit menemukan orang yang sejenis dengan pahlawan berhati mulia yang bersedia menolong siapa saja. Benar, 'kan?

Daripada menambah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama dengan terus berpikiran negatif tentang orang-orang itu, aku lebih memilih mengalihkan pandanganku ke direksi lain; tempat di mana datangnya angkutan yang sudah sejak lima belas menit yang lalu kutunggu.

Tidak lama setelah itu, sekitar lima menit kemudian angkutan itu datang. Angkutan biasa, tidak terlalu mewah ataupun terlalu sederhana. Sebenarnya lebih tepat jika kendaraan yang cukup besar itu disebut bus. Bus berwarna merah bernama Agra Mas yang jumlahnya kupikir juga terbatas, karena setiap menaikinya, aku sering bertemu dengan supir dan kondektur yang sama seperti sekarang ini. Dan ini merupakan kali ketiganya aku bertemu dengan supir dan kondektur yang sama—setidaknya itulah yang kuingat.

Mungkin mereka—supir dan kondektur—juga hafal dengan wajahku ini. Yah, siapa memangnya yang tidak akan dengan mudah mengenali wajah yang terbilang sangat mudah diingat ini? Ah, lagi pula siapa yang peduli dengan hal itu! Aku hanya ingin cepat duduk dan setidaknya bisa tidur sejenak hingga busnya mendekati tempat tujuan.

Tempat duduk urutan pertama, berbangku tigalah yang kupilih. Kuarahkan pandangan ke depan secara intens, tidak peduli dengan sekitar terutama tatapan sang supir dan kondektur. Mungkin terdengar kejam, tapi aku punya alasan untuk itu. Aku lelah dan beginilah manusia ini jika sedang lelah.

Perjalanan menuju rumah bisa terbilang memakan waktu yang cukup lama, sekitar satu setengah jam. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu tersebut hanya dengan memandangi mobil-mobil yang melaju di setiap sisi mobil yang kunaiki atau hanya memandangi peristiwa gerak semu akibat rotasi bumi.

Aku pun memejamkan mata, walau tidak sampai berlabuh ke dunia mimpi, setidaknya hal yang kulakukan itu cukup menjauhkan mata dari kelelahan dan rasa kantuk yang melanda karena kurang tidur.

Namun apa yang kulakukan saat itu tidak berlangsung lama seperti sebelum-sebelumnya. Ketika bus hasil produksi dari Negeri Sakura itu melewati tikungan, aku justru sibuk menatap kagum peristiwa fotonasti yang terjadi pada pohon-pohon cemara yang berada di sisi sebelah kiri bus merah ini.

Saat sedang asyik menatap gerak pada tanaman cemara di luar sana, perhatianku tiba-tiba teralihkan pada bunyi benda yang biasa digunakan untuk komunikasi pada zaman modern saat ini. Hanya saja bunyi dari benda bernama handphone tersebut bukan berasal dari milikku. Bunyi itu berasal dari arah sebelah kiriku, tempat di mana kondektur bus ini sedang duduk di bagian tempat duduk berbangku dua.

Tetapi hanya sekitar beberapa detik kondektur itu berbicara dan mengatakan bahwa ia akan menelepon balik orang yang meneleponnya.

Bukan bermaksud untuk menguping pembicaraan orang yang sedang menelepon dan membicarakan hal-hal tertentu, tetapi orang di sebelahku ini—kondektur—suaranya lumayan kencang hingga aku dapat dengan mudah mendengar pembicaraannya.

Lama aku mendengarkan pembicaraan kondektur tersebut dengan terus menatap bagian depan luar kaca bus ini. Setiap kalimat yang ia lontarkan kepada orang yang diteleponnya, membuatku tertarik untuk mendengar lebih jauh sembari menahan senyum yang sempat terkembang tipis di bibirku.

"Elsa wis maem urung?"

Oke, dari logat dan bahasanya aku sudah dapat menyimpulkan bahwa kondektur itu berasal dari kota yang jauh dari sini. Dan sepertinya yang menjadi lawan bicaranya saat itu adalah anak perempuannya.

"Karo opo?"

Saat pertanyaan itu terlontar dan jawabannya yang diulang oleh kondektur itu terdengar di telingaku, aku pun tak dapat menahan senyuman lagi. 'Endok karo kecap' ... sederhana tapi aku menyukainya.

"Elsa wis jajan?" Kondektur itu tersenyum. "Duit sing Bapak kirim dinggo Elsa jajan wae, yo?" lanjutnya kemudian.

Dan percakapan itu pun berlangsung lama. Aku terus memerhatikannya dengan tetap tidak mengalihkan pandanganku dari awal.

Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang keluar dari mulut kondektur itu tak hentinya membuatku berpikir bahwa ternyata masih ada orang yang baik seperti dia di zaman sekarang ini.

Mulai dari rencana kondektur yang mengatakan akan pulang ke kampung halamannya, membelikan hadiah untuk anaknya hingga mengajak keluarganya jalan-jalan. Kalimat-kalimat itu membuatku tak hentinya berkali-kali untuk menahan sebuah senyuman yang akan terpampang di wajahku.

Dan hingga perkataan terakhirnya yang mengatakan, "Bapak juga kangen karo Elsa ... nek Bapak pulang, engko tak cium Elsa ...!" membuatku tersenyum dalam hati. Tawanya yang terkesan tulus membuatku bangga pada bapak kondektur ini. Dari kota lain ia merantau ke kota orang demi kehidupan keluarganya. Sungguh seorang ayah yang patut diberi gelar pahlawan. Pahlawan berhati mulia yang menyayangi keluarganya dan terus berjuang untuk mereka.

Sampai pada akhirnya aku turun dari bus itu dan tanpa menoleh ke belakang lagi, aku pun berucap dalam hati, semoga kondektur itu selalu bisa menjadi pahlawan yang menjadi kebanggaan dan sumber kebahagiaan bagi keluarganya yang jauh dari kota orang.

oOo

FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar